Beratus-ratus malam yang lalu,
Pertama mengenalmu aku adalah perempuan kadung skeptic yang memilin cinta diujung jemari. Dengan mudah memetik hati, lalu aku tiup serupa kelopak-kelopak dandelion hingga terbang dan kemudian ku tinggal pergi. Ya, Aku hanyalah sosok perempuan yang kadung menjadi angkuh saat pertama kali berkenalan denganmu. Jangan tanya seberapa besar keras kepalaku, pun seberapa tajam ucapanku.
Oh, tapi, sayang.
Tidak.
Aku tidak benar-benar angkuh.
Tidak.
Aku tidak benar-benar angkuh.
Aku memang perempuan tanpa hangat.
Tapi bukan angkuh.
Aku hanya masih benci.
Pada diriku sendiri.
Sebab saat itu, benar-benar tak mampu membawa diri, untuk berdamai dengan masa lalu.
Maka, jadilah aku yang seperti awal kau ketahui.
Tapi bukan angkuh.
Aku hanya masih benci.
Pada diriku sendiri.
Sebab saat itu, benar-benar tak mampu membawa diri, untuk berdamai dengan masa lalu.
Maka, jadilah aku yang seperti awal kau ketahui.
Ya. Cinta masih kupilin diujung jari, tak ku genggam apalagi ku beri pada siapapun.
Aku sampai lupa bagaimana debar kencang dalam ruang di sebelah kiri tulang rusukku. Semenjak seseorang mengubahku menjadi abu-abu.
...
Oh, suatu hari semesta berkata lain.
Oh, suatu hari semesta berkata lain.
Kau datang sebagai orang yang sangat menyebalkan.
Aku sebal sebab kau datang sebagai yang kukagumi, juga sebagai yang tahu akan luka-lukaku dulu, yang kadung menganga dan membusuk.
Sebab pula,
Aku benci mengungkit masa lalu.
Mengungkit laki-laki itu, mengungkit rasa sakit yang kusimpan rapih-rapih selama ini.
Kemudian seiring waktu, aku mulai terlena dengan keteduhan dari tatapanmu. Aku, dan kamu menasibkan diri menjadi kita meski selalu berbeda.
Tuhan mempertemukan kita melalui hal-hal sederhana yang kemudian menjadi megah dan besar karena cinta, mengisi dengan jutaan cerita serta perjalanan panjang. Tak jarang, kan? (kamu dan) aku menulis mengenai "kita" dengan satu halaman penuh harapan, agar semesta yang tak tuli menyadari, ada doa keras kepala yang minta diamini.
Meskipun awalnya, kau dan aku hanyalah sepasang telapak tangan yang menengadahkan tangan, memohon kepada Tuhan agar dihapuskan segala luka lama. kemudian menjadi sepasang yang saling menguatkan.
Semesta mengirim kau bersamaan dengan kecemasan dan kepulangan dengan waktu yang dipesan secara tiba-tiba. Aku tidak pernah menyangka. Semesta mengizinkanku sepenuh ini mencintai seseorang. Oh, aku mulai mengenal rasa air matamu, kau mengenal gumpal dukaku.
Sementara jarak, tak akan pernah kelelahan mematahkan kita.
Mungkin kamu adalah pelajaran bagiku, sedangkan aku adalah titik balik segala ideologimu, atau mungkin kita hanya segelintir cerita yang dibesar-besarkan saja.
Apapun itu, terima kasih sudah sanggup bertahan meski kamu tau mengahadapiku itu lelah. Kita bukan satu-satunya yang punya banyak mimpi sederas hujan. Kita juga bukan satu-satunya yang gemar menerbangkan doa ke lipatan langit penuh harapan. Tapi mungkin kita termasuk dari sebulir, bahkan tak sampai segelintir dari mereka yang tetap keras kepala mempercayai apa yang sedang dalam genggaman mereka.
Kamu tau persis betapa kita sering nyaris patah, namun tidak pernah benar-benar pecah. Meski amarah bahkan lelah sudah habis menjarah tenaga.
Dan kamu, laki-laki.
Adalah yang telah membunuh segala keangkuhan ku, yang meruntuhkan seluruh kesombongan ku.
Aku luluh lantah.
Ku ingatkan lagi.
Kita bukan cerita selewat yang diburu-buru, kau dan aku punya sesuatu untuk dituju. Kau harus ingat, kita bukan lagi sepasang laki-laki dan perempuan yang bersama cuma sebagai penghias hari-hari sepi dan bukan cuma sekedar teman bercanda setelah itu saling sinis dan lupa diri.
Apa yang kita lewati, yang kamu lakoni bukan permainan semacam itu.
Tubuhmu semesta, dan disudut setiap hadirmu lah aku berserah. Tak mau lagi menengadah, tak perlu lagi susah cari arah. Sebab kamu adalah pulang dan temu bagi segala pencarian, pemberhentian terakhir bagi setiap singgah yang tidak ku kenal. Setiap doa yang ku amini, dan manusia yang aku benci sekaligus aku cintai.
Kamu, hadirmu, cintamu, tubuhmu persis hujan.
Turun sebutir, lalu deras. Dan aku rela basah kuyup tanpa sebuah payung.
tertanda,
perempuan penikmat sejuknya tatap matamu.

0 comment:
Posting Komentar