Januari 18, 2015

0

Sepasang Asing


Aku tak tahu harus memulai cerita dari mana. Yang aku ingat, sewaktu dulu aku dan dia sedang duduk berhadapan di sebuah café yang biasanya kami kunjungi tiap kali kami memiliki waktu untuk bertemu. Café yang menyaksikan suka dan duka cerita yang pernah kami jalani bersama-sama.
Aku dan dia seperti dua orang asing saja. Dia sibuk menikmati lattenya sambil menerawang keluar jendela, dan aku sibuk mengaduk-aduk cappuccino yang mulai kehilangan kepulan asapnya. Kekakuan menari di udara, begitu dingin dan gigil. Tak ada yang memulai pembicaraan sampai akhirnya aku memutuskan berdehem sebentar dan menanyakan kabarnya.
Ia mengernyitkan dahi lalu bertanya mengapa aku menanyakan kabarnya padahal selama ini kami selalu bersama-sama. Aku tersenyum kecut mendengar pertanyaannya, lalu pelan-pelan aku menunjuk dadanya. “Apa kabar, kamu?”, tanyaku lagi. Semakin banyak lipatan di dahinya. Aku tahu.. Tandanya ia semakin tak mengerti.
“Kau sedang apa?”, tanyanya.
“Aku sedang merindukanmu.. yang dulu”, jawabku. “Jangan salah sangka, merindukan kau yang lama bukan berarti aku tak mencintai kau yang sekarang”, ujarku.
Ia menatapku dengan tatapan yang aku tak tahu maknanya. Yang aku tahu, tatapan itu begitu menyakitkan. Tatapan yang tak seharusnya dilakukan pada seseorang yang mengaku cinta.
Lalu hening memenuhi ruang percakapan. Aku menunggu dia mengatakan sesuatu, tapi ia tak kunjung selesai dengan bungkamnya. Jadi aku bertanya lagi padanya,”Tak merasakah kau bahwa kita telah begitu asing?”. Ia bergeming, masih menatap keluar jendela. Aku menunggu begitu lama, menebak-nebak apa yang lebih menarik untuk dia lihat di luar sana selain aku, orang yang mencintainya.
Aku mengaduk-aduk cappuccinoku lagi. Asapnya kini benar-benar hilang. Di luar sana, awan-awan mendung menggelayut, siap menumpahkan air yang memberatkan terbangnya.
Aku mencoba menghitung tik tok jam di tanganku, tapi aku kehilangan kesabaranku. Maka aku menggenggam tangannya, menarik wajahnya agar menatapku.
“Katakan padaku, bagaimana kabar hatimu?”, tanyaku.
Ia hanya menatapku dengan tatapan yang menyakitkan itu. Aku menghela napas.
“Masihkah ada aku di dalam hatimu?”, tanyaku lagi.
Ia masih bungkam. Aku meremas tangannya.. Terlalu takut mendengar jawabannya atas pertanyaanku selanjutnya.
“Masihkah kau mencintaiku?”, tanyaku parau.
Tatapannya melunak. Aku pikir ia akan berbicara, tapi kemudian ia justru melempar pandangan keluar jendela lagi. Rintik-rintik hujan mulai memukuli kaca jendela. Aku diam, menunggu di hadapannya. Membiarkan ruang kosong percakapan dipenuhi suara rintik hujan dan keheningan. Lalu ponselnya yang tergeletak di meja tiba-tiba bergetar, ia meliriknya sekilas lalu dengan cepat memasukkannya ke dalam saku jaket yang ia kenakan. Jaket yang dulu pernah ia gantungkan di bahuku saat hujan. Jaket yang pernah melindungiku dari kedinginan. Ia tak mengizinkan aku melihat ponselnya. Hal yang belakangan sering ia lakukan namun entah mengapa kali ini terasa begitu menyesakkan.
Aku menunduk, menggigit bibirku kuat-kuat, menahan nyeri di dada yang begitu hebat.
“Siapa? Siapa yang berhasil merebut hatimu dariku?”, tanyaku untuk ke sekian kali.
Ia masih memandang ke luar jendela yang entah mengapa begitu menarik baginya padahal kami sedang membicarakan hal yang tak sepele.
Aku menghela napas. Menenangkan pikiranku. Berusaha keras supaya air mataku tak tumpah di hadapannya. Ia benci melihatku menangis. Lalu aku menatapnya.
“Aku tak tahu di bagian mana letak kesalahanku hingga kau memilih berlabuh ke lain hati. Minta aku tinggal dan kita akan memperbaiki ini..”, ucapku.
Ia melirikku. Menghela napas, dan menundukkan kepala.
“Pergilah..”, ucapnya.
Kata sederhana yang berhasil menguburku dalam puing-puing duka. Maka aku mengangguk, menggamit tasku, dan keluar dari café itu. Pandanganku kabur, dihalangi linang bening air mata. Lucu sekali ya.. Bagaimana seorang yang benci melihat orang lain menangis justru menjadi penyebab utama mengapa orang itu menangis.
Aku berjalan di bawah hujan hingga menggigil kedinginan. Bukan. Aku bukan menggigil karena hujan, tapi karena peluknya yang telah hilang dan tak mungkin lagi aku temukan.

karena hanya kaki yang tahu
mengapa kembali itu tidak pernah mudah.


NB: cerita pendek ini saya tulis 5 tahun lalu, dan kebetulan menemukannya di arsip pribadi saya.
Jadi, saya memutuskan untuk diposting saja. Supaya lebih tertata dan tidak terselip lagi.
Semoga bermanfaat.

0 comment:

Posting Komentar