April 29, 2015

1

#rabumenulis (1)



Hari sudah terlampau sore untuk kakek tua bertopi jerami datang ke kebun. Kami mengenal bapak tua itu sebagai seorang yang gemar mendongeng. Biasanya, setiap sore ia lebih senang untuk duduk-duduk di kursi goyang kesukaannya sambil menikmati bias jingga yang masuk melalui kisi-kisi jendela. Setelahnya, ia akan memanggil kami, -para anak panti- untuk berkumpul dan duduk melingkar, menjadikan ia sebagai pusat perhatian. Lalu, saat kita sudah duduk dengan saksama, ia akan membuat kami terpesona dengan cerita-cerita petualangan si kancil, timun emas (dan masih banyak lagi) yang ia dongengkan.

Sore itu, tak ada dongeng tentang petualangan si kancil, timun emas, ataupun yang lainnya. Hanya ada raut wajah yang keriput dan cemas. Dibimbitnya keranjang rotan di tangan sebelah kiri, kemudian berpamitan kepada kami untuk mengambil jeruk di kebun belakang rumah panti dengan suaranya yang bergetar dan parau.
Kami serempak untuk bertanya, “Untuk apa ke kebun, Kek? Hari sudah sore.”
“Hari ini dongeng libur dahulu. Kakek mau ambil jeruk untuk nenek. Nenek ingin makan jeruk,” katanya.

Kami serempak mengikutinya berjalan dari belakang. Agar bila ia terjatuh, kami bisa segera memapahnya karena hujan turun deras malam tadi, dan jalan menuju kebun sedang licin-licinnya.

Sesampainya di kebun, kakek tua bertopi jerami memetik buah jeruk satu per satu. Memasukkannya dengan hati-hati ke dalam keranjang yang ia cangklongkan di tangan kanan. Sesekali mendengarnya bersenandung pelan menyanyikan lagu Yesterday dari The Beatles.
Salah seorang dari kami menceletuk dari belakang, “Kakek, banyak sekali memetik jeruknya. Untuk siapa?”
“Kan kakek sudah bilang. Jeruk ini untuk nenek. Nenek sedang sakit. Ia pengin sekali makan jeruk, barangkali setelah makan jeruk, nenek bisa sembuh,” katanya.

Hening memenuhi udara. Kami saling menoleh, memandangi satu per satu tanpa ada yang menjawab ataupun bertanya lagi.
Hanya kemudian kami semua serempak menangis dan menyuruh kakek pulang.
“Kakek, mari pulang. Nenek sudah tiada.”
Kemudian, kami lihat bola mata kakek berkaca-kaca. Seperti ada badai besar dibendungnya disana. Hanya tersenyum dan tanpa menjawab sepatah kata pun, kakek merangkul kami semua untuk berbalik badan dan berjalan bersama untuk kembali ke rumah panti, tempat kami bernaung.

Setahun yang lalu, nenek meninggal pada saat musim panen jeruk seperti ini. Dan ia belum sempat memakan jeruk yang ia tanam di kebun belakang rumah panti.

1 komentar:

  1. JOIN NOW !!!
    Dan Dapatkan Bonus yang menggiurkan dari dewalotto.club
    Dengan Modal 20.000 anda dapat bermain banyak Games 1 ID
    BURUAN DAFTAR!
    dewa-lotto.name
    dewa-lotto.com

    BalasHapus