Februari 01, 2014

0

Yang Tercinta, Mencintaiku dengan Sederhana


Tertuju, pada yang tak pernah lupa disebut dalam setiap panjatan do'a.

Malam ini tak ada yang terlihat begitu berbeda seperti biasanya. Aku tetap menuliskan apa yang selalu kadung tertancap dibenakku dengan dalam.

Lagi, tulisan ini adalah perihal bagaimana menghargai hidup dengan sebahagia-bahagianya.

Ah, tentu saja kau telah jenuh membaca tulisan seperti ini. Karena bagimu, bahagia sangat sederhana, bukan?

Tak perlu teori, peralatan, atau bahkan peluang yang hanya bisa didapatkan pada waktu-waktu tertentu. Sebab, bahagia bisa kapan saja.

Ah, maaf. Aku terlalu larut dengan bahagia. Salah siapa, selalu membahagiakan sehingga aku lupa bahwa aku ternyata sempat luka sangat lama.

Sudah, tak usah lagi bicara luka.

Kembali pada niat awalku, sebenarnya hanya untuk mengucap terima kasih padamu, sebab siang tadi telah berbaik hati mengantar aku melewati sudut kota demi mencari minuman susu kacang favorite kita yang-si-penjual-nya-ternyata-sudah-pindah-tempat-berjualan meski dirundung hujan rintik-rintik.

Hahaha.

Mengingat tadi siang, aku jadi rindu perbincangan-perbincangan konyol denganmu lagi.

Tentang bapak-bapak penjual buah yang melayani pembelinya dengan hanya mengenakan kaus kutang dan sambil menggendong anak balitanya dengan kain jarit.

Tentang matinya mesin motormu secara mendadak di tengah jalan yang padahal kita sedang membicarakan mogoknya mesin motor orang lain karena kehabisan bensin.

Tentang anak sekolah yang buang air kecil sambil menghadap ke jalan dan kemudian kamu memarahi aku karena tak sengaja melihatnya.

Tentang percandaanku yang membuat kamu merengek manja, tapi aku diam saja. dan kemudian rengekanmu semakin parah hingga tak tahan perutku menahan geli karena melihat ke-aleman-mu, laki-laki.

Hahaha. Seru, ya? Lain kali jika kamu punya waktu, kita berbahagia lagi, yuk!

Oh, ya, Tuan.

Ada terimakasih lagi yang perlu aku sampaikan.

Terima kasih, sebab ketika banyak orang memilih untuk memberi hal bernominal kepada pasangannya, kau justru lebih suka untuk hanya memberiku pundak tempat aku dapat menangis sesenggukan saat lara, telinga untuk dapat ku cemari cerita yang itu-itu saja, dan mulut sebagai nasihat saat aku kadung terlena dengan hal-hal dunia.

"kalau bahagia, bersiap-siaplah untuk sedih. begitu pula sebaliknya. Tak bisa menginginkan satu saja dan menolak yang satunya, mereka sepasang. Ingatlah, tidak perlu tunggu tersandung untuk berjalan lebih hati-hati". Begitu, katamu. Ah, tidak sebijak itu ketika kamu menasihati aku, penuh lelucon, penuh candaan. Tapi tidak bisa berbohong, kamu hanya ingin menutupi segala kebijakan di kepalamu itu.

Sudah, ya. Aku mulai mengantuk.

Aku tunggu teguranmu besok perihal tulisan ku yang mengumbar aibmu.

Hahaha.
Selamat malam, Tuan.
Laki-laki yang menuntun pada kesabaran yang menyejukkan.
Sampai kita bertemu di fajar esok.




salamku,
perempuan.

0 comment:

Posting Komentar